Pagi ini di Transjakarta...
Kondisi bus udah cukup penuh. Seorang ibu lanjut usia masuk ke dalam bus dari salah satu halte. Ngga bisa dipungkiri lagi kalo dia memang sudah cukup tua dengan kerutan dan juga cara berjalannya yg perlahan-lahan karena berhati-hati. Ia pun sepertinya tidak akan riskan apabila ada yang memanggilnya dengan sebutan 'nenek'.
Begitu
masuk, ibu itu langsung berjalan mengarah ke deretan bangku bagian depan yang hanya terdiri
dari 5-6 bangku. Petugas pun dengan hati-hati dan sigap segera menuntunnya sambil meminta dengan
sopan kepada para penumpang yang ada di deretan bangku tersebut untuk
memberikan bangkunya kepada ibu tua ini.
Tapi, ngga ada 1 pun yang langsung sigap memberikan
bangku. Bangku yang didominasi oleh ibu-ibu (yang gue bisa perkirakan) berusia 30-40
tahun dengan make-up cukup tebal, penampilan yang serba matching dan
fashionable from head to toe, dan tubuh yang terlihat masih segar, hanya memperhatikan dalam
diam. Beberapa lagi hanya sesekali melirik. Beberapa lagi pura-pura tertidur. Gue sendiri yang duduk di deretan ujung paling belakang hanya bisa menatap dengan pilu bersama beberapa orang di deretan belakang. Lucu memang, kita sama-sama tidak sigap untuk langsung saja berdiri dan memberikan bangku, tapi kita seakan menunggu, apakah di deretan depan benar-benar tidak ada yang mau memberikan bangku?
Ngga lama, 1 orang ibu-ibu berdiri dan akhirnya memberikan bangkunya. Seorang ibu dengan
tampilan sangat sederhana, rambut diikat asal dengan karet gelang, kaus yang nampak
lusuh, dan rok polos yang begitu sederhana yang mungkin akan dinilai oleh
ibu-ibu lain sangat tidak modis dan apalagi fashionable. Tasnya pun hanyalah dompet
hitam yang tampak kusam dengan tali tipis dan panjang berwarna sama.
Ibu itu berdiri dan memberikan senyum terbaiknya sambil menawarkan bangku dengan begitu sopan. Dia juga membantu ibu tadi untuk duduk di bangkunya, sementara dia mencari posisi yang cukup nyaman untuk berdiri.
Ngga lama setelah kejadian itu, gue yang harus transit di Harmoni dan berganti bus untuk ke tempat kerja, diberikan pemandangan yang serupa.
Bus yang datang saat itu sudah dalam kondisi penuh. Belum juga gue dapet giliran buat jalan masuk ke dalam bus, beberapa orang di belakang sudah tidak sabar ingin segera masuk. Gue pun berdiri karena tidak mendapat bangku. Satu halte sebelum halte terakhir yang gue tuju, seorang ibu muda masuk sambil menggendong anaknya yang berusia sekitar 3-5 tahun. Ibu itu terlihat kesulitan dan berjalan ke arah deretan bangku depan yang memang diperuntukkan untuk wanita. Setelah melihat ke arah ibu tadi, gue sengaja menatap petugas yang malah sedang asyik bergurau dengan temannya dan tidak membantu sama sekali ibu itu.
Posisi gue udah berdiri di dekat pintu ketika gue melihat ibu itu kembali dan berjalan ke deretan bangku yang belakang, tau kalo di deretan sana tidak ada satupun yang peduli padanya, dan berharap ada beberapa pria yang mungkin akan cukup iba untuk memberikan bangkunya. Dan ya, ada yang akhirnya memberikan bangku untuk ibu tersebut.
Pertanyaan gue cuma satu melihat realita ini:
Sampai kapan?
