“Let me. Please.” Nada bicara Sekar sudah semakin parau.
Sesekali dia meremas tangan Erwin. “Erwin–”
“Kenapa?” Erwin berusaha menahan nada bicaranya. Entah takut
terdengar marah, atau terdengar sedih.
“Ijinin aku ya. Please. Aku mohon. I’m happy with him.”
“Then why? Kenapa kamu harus dateng kalo kamu ngga ada
niatan untuk stay? Kenapa? Aku udah jalanin semua saran kamu, to be a better
man, then now why? Why you keep choosing him? Sekar. Why not me? Kenapa aku
ngga dikasih kesempatan?”
Erwin memegang lembut pipi Sekar yang sudah basah dengan air
mata. Hangat, Sekar menutup matanya perlahan. Sesuatu yang akan sangat dia
rindukan
“Ngga semudah itu –”
“Memang ngga mudah. Aku juga tau. 11 tahun, I watch you from
distance. 11 tahun aku pendam rasa yang ternyata kamu juga punya. And now
there’s a chance –”
“Kamu tau dari awal kan kalo ngga pernah ada yang namanya
kesempatan di kita. Selalu dia dari awal. Aku sudah dengannya, dan akan selalu
dengannya. I want to stop this, hurting you, hurting him, hurting myself.
Please. Aku ngga setega itu, ngga sejahat itu. Aku mohon.”
Erwin masih diam. Dia masih bertahan memegang pipi Sekar,
tapi enggan menatap matanya.
“Erwin, aku seneng ada kamu, tapi aku bahagia sama Rasyid.”
“Ok, that’s it.” Erwin tiba-tiba berdiri, sambil menghela
napas panjang.
“What?” Sekar terlalu terkejut untuk mengucapkan kalimat
lain.
“That’s it. I get it. Kamu muter-muter ke sana kemari, itu
sebenernya yang seharusnya kamu ucapkan.”
Sekar terlalu terkejut dengan perubahan sikap Erwin. Dia
yang balik diam menatap kebingungan.
“Kamu senang ada aku, tapi kamu bahagia dengannya. Itu
kalimat paling final buat aku. Karena senang itu cuma perasaan sesaat,
sedangkan bahagia itu perasaan lahir-batin yang akan kekal selamanya. Itulah
kenapa kamu mau bertahan dengannya.”
“That’s not what I mean –”
“Yes, that’s it Sekar. Kalimatmu tadi adalah kalimat yang
keluar dari hatimu, yang bener-bener hanya mikirin perasaanmu.”
Erwin beranjak dari teras rumah Sekar, menyalakan motornya, dan pergi ke gelapnya malam, meninggalkan Sekar yang masih duduk terdiam.
