Friday, April 4, 2014

Sampai kapan?

Pagi ini di Transjakarta...

Kondisi bus udah cukup penuh. Seorang ibu lanjut usia masuk ke dalam bus dari salah satu halte. Ngga bisa dipungkiri lagi kalo dia memang sudah cukup tua dengan kerutan dan juga cara berjalannya yg perlahan-lahan karena berhati-hati. Ia pun sepertinya tidak akan riskan apabila ada yang memanggilnya dengan sebutan 'nenek'.
Begitu masuk, ibu itu langsung berjalan mengarah ke deretan bangku bagian depan yang hanya terdiri dari 5-6 bangku. Petugas pun dengan hati-hati dan sigap segera menuntunnya sambil meminta dengan sopan kepada para penumpang yang ada di deretan bangku tersebut untuk memberikan bangkunya kepada ibu tua ini.
Tapi, ngga ada 1 pun yang langsung sigap memberikan bangku. Bangku yang didominasi oleh ibu-ibu (yang gue bisa perkirakan) berusia 30-40 tahun dengan make-up cukup tebal, penampilan yang serba matching dan fashionable from head to toe, dan tubuh yang terlihat masih segar, hanya memperhatikan dalam diam. Beberapa lagi hanya sesekali melirik. Beberapa lagi pura-pura tertidur. Gue sendiri yang duduk di deretan ujung paling belakang hanya bisa menatap dengan pilu bersama beberapa orang di deretan belakang. Lucu memang, kita sama-sama tidak sigap untuk langsung saja berdiri dan memberikan bangku, tapi kita seakan menunggu, apakah di deretan depan benar-benar tidak ada yang mau memberikan bangku?
Ngga lama, 1 orang ibu-ibu berdiri dan akhirnya memberikan bangkunya. Seorang ibu dengan tampilan sangat sederhana, rambut diikat asal dengan karet gelang, kaus yang nampak lusuh, dan rok polos yang begitu sederhana yang mungkin akan dinilai oleh ibu-ibu lain sangat tidak modis dan apalagi fashionable. Tasnya pun hanyalah dompet hitam yang tampak kusam dengan tali tipis dan panjang berwarna sama.
Ibu itu berdiri dan memberikan senyum terbaiknya sambil menawarkan bangku dengan begitu sopan. Dia juga membantu ibu tadi untuk duduk di bangkunya, sementara dia mencari posisi yang cukup nyaman untuk berdiri.

Ngga lama setelah kejadian itu, gue yang harus transit di Harmoni dan berganti bus untuk ke tempat kerja, diberikan pemandangan yang serupa.

Bus yang datang saat itu sudah dalam kondisi penuh. Belum juga gue dapet giliran buat jalan masuk ke dalam bus, beberapa orang di belakang sudah tidak sabar ingin segera masuk. Gue pun berdiri karena tidak mendapat bangku. Satu halte sebelum halte terakhir yang gue tuju, seorang ibu muda masuk sambil menggendong anaknya yang berusia sekitar 3-5 tahun. Ibu itu terlihat kesulitan dan berjalan ke arah deretan bangku depan yang memang diperuntukkan untuk wanita. Setelah melihat ke arah ibu tadi, gue sengaja menatap petugas yang malah sedang asyik bergurau dengan temannya dan tidak membantu sama sekali ibu itu.
Posisi gue udah berdiri di dekat pintu ketika gue melihat ibu itu kembali dan berjalan ke deretan bangku yang belakang, tau kalo di deretan sana tidak ada satupun yang peduli padanya, dan berharap ada beberapa pria yang mungkin akan cukup iba untuk memberikan bangkunya. Dan ya, ada yang akhirnya memberikan bangku untuk ibu tersebut.

Pertanyaan gue cuma satu melihat realita ini:

Sampai kapan?

Wednesday, April 2, 2014

little-little I can.

Yes, kalian ngga salah baca.

"Little-little I can."

Sebuah kalimat yang cukup familiar di telinga kita sebagai orang Indonesia. Entah itu sebagai bahan bercanda ataupun serius, kalimat ini biasanya diucapkan untuk menggambarkan kalau, "Yaaa dikit-dikit gue bisa lah Bahasa Inggris." Kalau di-bahasa-Indonesia-kan memang artinya menjadi "Dikit-dikit saya bisa." (Walaupun ya secara structure kayaknya ada yang salah dengan kalimat ini. Yang penting mah pede aja dulu. :p)

Bahasa Inggris memang menjadi salah satu bahasa Internasional yang wajib-ngga-wajib kita harus bisa (atau setidaknya tahu) agar bisa ikut dalam 'pergaulan Internasional'. Bahasa ini juga menjadi salah satu 'bahasa penyelamat' apabila kita berada di negeri orang, karena setidaknya ada 1 orang di negeri tersebut yang tahu bahasa Inggris (well, ya biasanya sih.).

Bahasa Inggris itu susah-susah-gampang emang. Susahnya, ya karena ngga kayak bahasa Indonesia yang terkesan mudah (karena memang bahasa yang sudah kita kuasai dari kecil), bahasa Inggris itu memiliki banyak 'peraturan', misalnya soal tenses. Apa yang terjadinya di masa lalu, apa yang terjadi saat ini, dan apa yang akan terjadi di masa depan itu berbeda cara pengucapannya. Tapi, di sini gue bukan mau ngajarin itu sih. Hahaha

Cara belajarnya juga beda-beda, ada yang sampe ikut les sampe level tertentu, ada yang otodidak, cuma dari nonton film asing, dengerin lagu-lagu barat, dan ada juga yang dengan chat dengan orang asing. Ya beda-beda sih, selama caranya halal, ilmunya juga jadi halal.

Guru bahasa Inggris SMP gue dulu pernah bilang, "Dalam prakteknya, yang penting pede aja dulu. Ngga usah peduli sama aturannya seperti apa. Jangan takut salah, karena di situ nantinya kita belajar."

Dan, yap. Itu ada benernya juga sih. Yang penting kita tahu bahasa Inggrisnya apa, dan asal ceplos aja, nanti juga pasti akan dibenerin sama lawan bicara kita. Sepedenya aja. Tapi ya at least, pronunciation-nya bener-bener dikit lah, jangan seenaknya, ya atau nanti orang yang diajak ngomong ngga akan ngerti-ngerti dengan ucapan kita dan nantinya malah jadi bahan ledekan.

Ya gitu deh. Sebenarnya postingan ini cuma mau jelasin kenapa kadang gue posting pake bahasa Inggris (yang mungkin rada awur-awuran), dan juga kadang pake bahasa Indonesia. Seenaknya mood aja pengen share postingan tertentu pake bahasa apa. Dan ya lumayanlah, jadi belajar lagi.

Practice makes perfect, right?

Yaaa, little-little I can lah intinya.

Wednesday, March 26, 2014

Rules were Made to be Broken (?)

They said, "If you obey all of the rules, you miss all of the fun. Rules were made to be broken."
Well maybe some rules were made to be broken, but the rest were made NOT to be broken for the sake of other good guys' rights. #halorealita